Parametalk 2.2

VILLAGE FUTURE COMMUNITY by. SINGGIH SUSILO KARTONO

Oleh : Zulkifli

Maganger Universitas Bung Hatta1

sumber :Dokumentasi Parametr architecture & instagram singgih susilo kartono

Parametalk 2.2 merupakan sesi kedua yang dilaksanakan oleh Parametr Architecture pada tanggal 5 april 2016 .Dimana sebelumnya telah sukses melaksanakan parametalk 2.1 yang dilaksanakan 15 januari 2016 yang bertempat di ruang akar Parametr Architecture.

Pada kesempatan parametalk 2.2 yang bertempat di –Brownstone cafe, jam 16.30 wib, Mendatangkan bintang tamu Singgih Susilo Kartono.Dengan tema village future community ( masa depan masyarakat desa ).

Singgih Susilo Kartono, merupakan seorang lulusan desaign grafis ITB pada tahun 1992. Putra asal desa kandangan, temanggung jawa tengah ini lahir pada 21 april 1968. Pada

waktu itu banyak bercerita tentang jalan hidupnya untuk mencapai kesuksesan dia.3.JPG

sumber: foto dokumentasi parametr architecture

Kembali ke Desa, bukanlah sebuah cita cita masyarakat sekarang.

Di era zaman sekarang banyak masyarakat dari kampung ingin ke kota besar untuk mencapai impian masing – masing. Dengan harapan mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Bahkan ingin menikmati kesuksesan mereka di kota besar baik yang punya pendidikan maupun yang tak terpendidik. Namun beda hal nya yang dilakukan oleh Singgih Susilo Kartono ,seorang pria yang mempunyai tekad untuk kembali ke desa, yang dulunya sempat tinggal di kota besar Bandung untuk menimba ilmu desain grafis dan sempat bekerja disebuah perusahaan selama dua tahun. Setelah bosan dengan kehidupan di kota yang penuh kemacetan, polusi udara, dan sulit untuk mendapatkan air yang bersih, beliau memutuskan untuk kembali ke desa dengan alasan ingin mengembalikan fitrah dan potensi alam yang ada di kampung nya sendiri kandangan Temanggung.

4.JPGSumber: foto dokumentasi parametr architecture

Bagaimana caranya singgih Susilo Kartono memgembalikan fitrah potensi kampungnya tersebut. Yaitu, mendirikan usaha dan hidup di desa.”

RADIO MAGNO

Memang tidak mudah untuk mencapai kesuksesan, itu yang mungkin terbentang dibenak kita saat melihat dan menyimak perjalanan Singgih Susilo Kartono pada presentasinya. Dimulai dari masa kuliahnya yang penuh perjuangan hingga rasa keinginannya untuk kembali ke desa, dimulai dari buka usaha dengan modal nol. Pria ini merintis melalui usaha membuat produk yang ber-chasing kayu, yang produknya seperti kaca pembesar, jam, stepler dan radio. Sebagai tamatan desain grafis, untuk radio Singgih mendesain se-simple mungkin dan sangat mudah dipakai tanpa adanya tombol – tombol yang rumit, karena dia suka kedetailan semua peralatan radio dibuat secara manual atau handmade,seperti knop,handle, tutup antena, kecuali komponennya.

Kenapa tidak televisi?, terdapat gambar yang jernih dan suara yang lebih bagus.

Mungkin pertanyaan itu wajar lahir dari pemikiran kita ,Di zaman sekarang masyarakat lebih memilih gadget, komputer dan televisi yang selalu mengikuti perkembangan dunia ketimbang sebuah radio yang hanya dapat didengar dengan telinga.

Dalam radio ini, Sepertinya Singgih mempunyai pesan antara rasa dan jiwa seninya, Singgih mempunyai alasan untuk konsumennya untuk dapat merasakan kebebasan berimajinasi, membayangkan wajah ataupun bentuk orang yang sedang berbicara dalamnya.

Kembali kepada kesuksesan Singgih dalam pembuatan radio magno ini. Yang dikutuip dari sebuah surat kabar kompas edisi,14 april 2010. Radio kayu yang bermerk magno itu memenangkan penghargaan seperti.

5.jpg

sumber : instgram Singgih

  1. Pemenang lomba design di seattle, Jepang

  2. Pemenang good desaign Award 2008 untuk kategori innovation / pioneering & Experimental Design. Di jepang.

  3. Masuk nominasi untuk Grand Awards untuk Desain for Asia Award . Pada 19 Maret 2009, Radio magno memenangkan Brit Insurance Design Award 2009 untuk kategori produk . Di Hongkong

Dari kemenangan itulah Singgih dapat orderan untuk membeli radio magno nya hingga Singgih pernah kewalahan untuk permintaan radio tersebut. Untuk memenuhi permintaan tersebut Singgih sudah mempekerjakan 30 orang masyarakat Kandangan Temanggung.

6.JPGsumber : foto dokumentasi parametr architecture & instgram Singgih

PASAR PAPRINGAN

Tak mudah mendirikan pasar ini yang sudah direncanakan 10 tahun sebelumnya.”

Singgih Susilo Kartono merupakan aktor dari pasar Papringan desa Kandangan Temanggung ini. Dengan diawali rasa kegelisahan pada waktu Singgih bersepedaan melihat desanya yang miskin serta masyarakatnya yang produktif banyak ke kota untuk mengadu nasib. Dengan dibantu beberapa orang temannya, Singgih mendirikan pasar tradisional papringan yang bertempatkan di desa Kandangan Temanggung. Dimana lokasi ini dahulunya sebuah kebun bambu yang tidak tertata, kemudian Singgih menata dengan baik tanpa merusak bambu itu sendiri.

7.JPGsumber : foto dokumentasi parametr architecture

Kalau kita mengingat dengan nama pasar tradisional yang terlintas adalah sosial manusianya. Dipasar tradisional, antara pembeli dan penjual bertemu secara lansung yang nanti mengadakan tawar menawar dalam pembelian barang sehingga terjadinya keakraban. Beda halnya dengan pusat perbelanjaan yang ada dikota besar dimana pembeli bertemu dengan seorang pelayan dan sulit untuk melakukan aktifitas tawar menawar dan dari itu juga rendahnya jiwa sosial masyarakat kota.

9.JPGSumber : foto fb pasar papringan

kesan bersama Singgih Susilo Kartono

Disimak dari presentasi nya selama kurang lebih satu jam, Dapat disimpulkan, bahwa apbila kita seorang yang produktif dan mempunyai sebuah desa alangkah baiknya kita mengolah daerah kita sendiri. Karena sebuah desa membutuhkan seorang yang produktif untuk memghidupkannya. Kembali.

10.JPGsumber : dokumentasi parametr architecture

May 24, 2016

Leave a Reply