Oleh: Astika Aprilliana

14 Juli – 14 Oktober 2014

20141013_150912[1]

“Don’t cry because it’s over, smile because it happened” ― Dr. Seuss

Dua puluh tiga kilometer perjalanan yang saya tempuh setiap hari -selama 3 bulan- untuk mencapai tempat saya kerja praktik/magang di Parametr. Saya, mahasiswa tingkat akhir Universitas Sebelas Maret memulai perjalanan saya untuk magang di Parametr. Pertama kali datang di Parametr, saya disambut oleh Mba Sari. Ternyata tidak hanya saya yang memulai magang di Parametr pada hari itu, Gandhi, teman magang saya yang berasal dari Riau juga memulai magang bersama saya. Di awal magang, perasaan canggung dan gugup itu wajar. Itu juga terjadi pada diri saya. Karena saya bertemu dengan orang-orang baru yang sangat expert di bidang arsitektur. Di sini, saya merasa kemampuan saya berarsitektur di kampus itu belum seberapa dengan yang dilakukan di dunia kerja. Maka disitulah tujuan saya melakukan magang, yaitu untuk mengasah skill saya dalam berarsitektur.

Minggu-minggu awal memasuki dunia baru di Parametr, saya mulai mencoba beradaptasi dengan pekerjaan dan berkehidupan sosial di lingkungan baru. Agak sulit bagi saya untuk beradaptasi dengan cepat, mungkin karena jarak usia saya yang berbeda dengan senior-senior di Parametr dibanding dengan teman-teman kampus yang sebaya dengan saya. Namun, setelah beberapa minggu berada disini, saya sudah mulai terbiasa dengan tanggung jawab pekerjaan dan kehidupan sosial di Parametr. Bersama dengan principal dan beberapa arsitek, saya mulai diajari bagaimana menggambar suatu desain yang benar, yaitu desain yang juga memikirkan proses perancangan yang mampu dilakukan oleh pihak diluar arsitek.

“In this field of Architecture, you must think positive trust yourself and believe that you can survive”― Anonymous

Selama magang di Parametr saya telah menempuh program magang, yaitu:

  1. Sayembara

Selama saya magang di Parametr ini, saya dan teman-teman magang mengikuti beberapa sayembara, yaitu Sayembara Museum Guggenheim, Sayembara Museum Batik, dan Sayembara PUSGIWA UI. Namun, karena ada beberapa kendala, sayembara yang diselesaikan ialah Sayembara Museum Batik. Disini, saya bersama teman-teman magang bekerja dalam tim untuk mendesain sebuah Museum Batik yang memiliki site di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Selama proses desain, tim kami dibantu oleh Mas Ario dan beberapa arsitek Parametr mengenai penyusunan bentuk dan massa ruang-ruang, hingga tahap paneling. Hingga akhirnya, usaha kami belum mendapatkan hasil yang tidak sesuai dengan harapan tim. Tetapi itu juga tidak membuat kami patah semangat. Kami mencoba mencari kekurangan dari desain yang telah tim buat untuk dijadikan acuan pada sayembara-sayembara berikutnya.

SAMBI - 01

  1. Proyek

Di pertengahan saya magang di Parametr, saya mendapatkan proyek dari arsitek-arsitek untuk support kerja tim menangani suatu proyek. Kegiatan yang dilakukan selama mengerjakan proyek ini seperti mewarnai denah, touch-up 3D, blow up denah ke 3D, hingga membuat detail interior hotel. Beberapa kali saya juga diajak oleh arsitek untuk pergi ke lapangan, melihat proyek-proyek yang sedang dibangun. Disini, saya berkesempatan untuk bertanya kepada arsitek mengenai proyek tersebut.

IMG_20141002_161846[1]

  1. Research and Development

Program research and development yang saya lakukan selama magang di Parametr, pertama kali ialah projek fasad Spouse House. Pada proyek ini, saya beserta anak magang lainnya diminta oleh principal dan di-supervisor-i oleh mas Supar untuk membuat desain pattern yang digunakan untuk fasad rumah Bapak Sofyan ini. Berikut ini merupakan alternative desain pattern yang saya buat untuk proyek Spouse House.

1a1b1c

“Jangan memulai lagi dari nol. Karena nol sudah ada yang menemukan” – Joffi Febriando

10534730_1008393162522267_2712517975741396825_n

Tidak terasa, 3 bulan yang singkat ini berlalu cepat. Banyak hal yang saya dapatkan selama 3 bulan ini dan belum tentu saya bisa dapatkan di kampus. Saya beruntung diberi kesempatan untuk magang disini.

Saya sangat berterimakasih kepada seluruh keluarga Parametr. Mas Ario, Mas Harun dan Mas Joffi selaku principal yang sudah menerima saya di Parametr. Mba Sari dan Mba Suci, tanpa mbak baca email saya, saya tidak bisa ketemu mbak. Mba Yesi, Mba Derin, Mba Siki dan Pak Bembi yang sudah mengajari saya dengan sabar sampai saya bisa mengerti hal-hal yang detail. Mas Tomi, Mas Santo, Mas Ryan kecil, Mas Ryan gede, Mas Supar, Mas Pandu, Mas Andri, Mas Ibnu, Mas Robby, Pak Syahril, terimakasih atas bantuannya baik langsung maupun tidak langsung. Dan kepada anak-anak magang, Ibnu, Gandhi, Amal, Roza, Azki, dan Aldo terimakasih atas kerjasamanya selama saya magang di Parametr.

How lucky I am to have something that makes saying goodbye so hard”― A.A. Milne, Winnie-the-Pooh

905884_1008261585868758_8786820070875937502_o

Tidak ada gading yang tak retak. Tidak ada satu makhluk hidup pun yang tak memiliki kesalahan. Maka dari itu, saya selaku mahasiswa magang di Parametr meminta maaf jika dalam masa magang di Parametr memiliki kekurangan bahkan ucapan yang kurang berkenan. Semoga apa yang sudah saya kerjakan di sini dapat bermanfaat bagi Parametr dan orang-orang disekitar saya, serta bermanfaat di kehidupan saya selanjutnya. Karena itu, dua puluh tiga kilo meter itu pun sudah terbayarkan, karena saya beruntung bisa  berada di tengah keluarga Parametr. Luckily I’m here.

“Jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain” – Bapak Saya (Agung Sriwahono)

October 14, 2014

Leave a Reply